Terima kasih atas dukungannya selama ini dan untun meningkatkan kualitas konten dan tampilan maka saya memutuskan untuk pindahan ke alamat yang baru ahafid.com.
Sampai jumpa
Salam
ahafid
Terima kasih atas dukungannya selama ini dan untun meningkatkan kualitas konten dan tampilan maka saya memutuskan untuk pindahan ke alamat yang baru ahafid.com.
Sampai jumpa
Salam
ahafid
Ditulis dalam NgeBlok
Pernahkah anda berempati pada apa yang dipikirkan pemilik perusahaan – bos anda – untuk mejalankan roda usahanya. Menjelang lebaran, sebagian besar karyawan akan mengharapkan THR-an dan sibuk mengalokasikan jadwal belanjanya disamping juga menjadwal cuti untuk pulang kampung berkumpul bersama keluarga. Belum lagi tuntutan karyawan lainnya atas kenaikan gaji tahun depan, bonus karena target terpenuhi, bonus tahunan dan tunjangan lainnya.
Pernahkan terlintas dalam benak anda bagaimana bos anda setiap saat berfikir keras untuk menjalankan roda perusahaan, mencari peluang usaha, menyusun rencana dan anggaran belanja, dan bahkan memikirkan kesejahteraan karyawannya.
Dengan kata lain, pernahkan anda terlintas untuk memiliki owners mind set, yaitu cara berpikir sebagai pemilik perusahaan. Bila jawabannya, ya pernah, berarti setidaknya anda masih ada jiwa entrepreneur.
“Cerita” yang menarik ini diulas secara sederhana namun jelas di majalah SMS – Entrepreneurship Magazine edisi Indonesia October 2008 pada artikel Insight oleh John Fink.
Owner mind set berbeda dengan employee mind set. Mind set karyawan adalah bila dia digaji Rp 20.000 per jam maka bila dia kerja selama 40 jam dalam seminggu maka dia akan menerima Rp 800.000 tetapi dia juga menginginkan mendapatkan gaji Rp 8.000.000 per minggu. Sedangkan owner mind set bila dia memulai usaha maka dia mungkin tidak akan dapat profit apa-apa pada minggu pertama, bulan pertama atau bahkan belum mendapatkan hasil apa-apa hingga beberapa tahun ke depan.
Sebagai ilustrasi kasus Jeff Bezos pendiri Amazon.com yang meninggalkan pekerjaan utamanya dengan gaji $ 1 juta dollar setahun untuk memulai bisnisnya sendiri pada tahun 1994. Baru di tahun ke tujuh yaitu th 2001, Amazon.com baru membukukan keuntungan $ 5.1 juta dollar. Bila Jeff Bezos hanya punya employee mind set niscaya dia tidak akan meninggalkan posisinya sebagai karyawan yang mapan dengan gaji $ 1 juta dollar setahun. Namun karena owner mind set dimiliki oleh Jeff Bezos maka dia siap menanggung segala konsekuensinya, termasuk tidak mendapat profit selama 7 tahun awal usahanya.
Bagaimana dengan anda?
Ditulis dalam Entrepreneurship | Tag:Business Mind Set, Entrepreneurship
Apa yang terjadi pada tanggal 14 Februari setiap tahun, setidaknya yang saya amati di Indonesia adalah “komersialisasi kasih sayang.” Yang seharusnya menjadi hari yang spesial menjadi tidak spesial lagi. Makna spesial menjadi pudar seiring dengan masuknya komersialisasi didalamnya.
Salahkah ini? Tentu tidak, karena “pasar” akan menemukan jalannya sendiri ketika hukum permintaan dan penawaran berlaku didalamnya.
Namun demikian para “muda-mudi” yang sedang asyik dengan romansa, secara tidak sadar terjebak dalam “komersialisasi kasih-sayang” dan justru memaknai valentine day menjadi tidak spesial lagi.
Sesuatu yang spesial adalah sesuatu yang berbeda dari yang lainnya. Valentine day menjadi spesial ketika memaknainya berbeda dengan hari yang lainnya, tetapi mejadi tidak spesial lagi ketika semua orang terjebak dalam “komersialisasi kasih sayang” sehingga yang muncul dimana-mana adalah “pacaran massal” dan berbagai bentuk “aktifitas unik” secara massal yang semuanya terjebak dalam komersialisasi dan bukan lagi kasih sayang yang spesial. Bagaimana bisa menjadi spesial ketika semua orang melakukannya.
Lukisan Monalisa menjadi fenomenal dan spesial karena tidak ada duanya dan akan menjadi tidak spesial lagi bila yang kita miliki adalah duplikasinya dan bahkan yang lebih parah lagi hanya berupa foto copy. Secara tidak sadar hal inilah yang kurang-lebih terjadi pada hari Valentine Day.
Ditulis dalam NgeBlok | Tag:valentine day
Artikel yang saya kutip dari rmexpose.com mungkin dapat menjadi inspirasi bagi lulusan SMU/sederajat bila ingin melanjutkan jenjang studinya.
Kisahnya juga dapat dibaca dibawah ini:
TUNDA KULIAH, PILIH URUS BISNIS ORANG TUA
Terlahir dari keluarga mampu dan sukses, tidak menjadikan dirinya malas dalam menjalankan bisnis karir. Untuk membesarkan usaha yang dirintis orang tuanya itu wanita bernama Ajeng Astri Peni ini rela menunda studi S1-nya.
Wanita yang akrab disapa Ajeng ini memang bukan tipe anak hura-hura, seperti teman-teman sebayanya. Diusianya yang masih relatif muda, dia sudah dipercaya menduduki posisi Manager di restoran yang berdiri sejak 2006 lalu.
Wanita kelahiran Jakarta, 20 tahun silam ini mengaku bangga karena diberi kepercayaan orang tuanya untuk membesarkan restoran makanan yang diberi nama “Resto” di bilangan Jakarta Barat.
Ajeng mengaku sengaja menunda kuliahnya untuk mengurusi usaha peninggalan orang tuanya. Karena orang tuanya sibuk mengurusi bisnis lain. “Ini merupakan tanggung jawab moral seorang anak kepada orang tua yang telah merawat dan membesarkan saya,” ucapnya.
Tidak hanya sebatas tanggung jawab saja, Ajeng pun banyak mendapat pengalaman baru dibisnis makanan yang menurutnya punya daya tarik tersendiri.
Selain keinginan yang kuat membesarkan bisnis keluarganya, ia juga memiliki motivasi untuk bisa mensejahterakan 24 karyawannya.
Bagi Ajeng, karyawan itu aset berharga dalam usahanya. Maka dari itu, ia kerap memberikan motivasi pada setiap karyawanya, sehingga mencitai dan bertanggung jawab dalam setiap tugasnya. Menurut Ajeng, maju mundurnya sebuah usaha tergantung kepada hasil dan kinerja karyawan. Sehingga, jika bisnisnya maju, maka kesejahteraan karyawan juga akan meningkat.
Di tengah persaingan bisnis makanan yang terus meningkat di wilayah Jakarta, tampaknya Ajeng tidak meras gentar bersaing. Sebab, restorannya punya hidangan “pamungkas” yang tidak ada di restoran lain.
Dia yakin restorannya memiliki pangsa pasar khusus dan ada yang fanatik. Sehingga, kehadiran restoran sejenis yang juga menawarkan bebek goreng sebagai menu andalan, tidak akan membuat pelanggannya berpindah kelain hati. rm
Komentar:
Sebuah pilihan memang berat, tetapi pernahkah kita mengambil keputusan yang tidak lazim bagi kebanyakan orang. Salah satu keberanian mengambil keputusan tersebut, sekalipun tak lazim, sebenarnya bagian dari jiwa entrepreneur. Banyak kisah sukses berawal dari suatu keputusan yang tak lazim dan diikuti dengan kesungguhan konsisten atas keputusannya.
Keberanian mengambil keputusan merupakan modal kuat dan ciri khas orang sukses, setelah kemudian melakukan kerja keras dan kesungguhan. Dan hal ini perlu dibina sejak usia muda. Tidak banyak anak-anak lulusan SMU yang berani mengambil keputusan besar yang berkaitan dengan masa depan mereka selain hanya mengulang-ulang apa yang dilakukan pendahulunya, yaitu melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi sekalipun biaya untuk itu tidak ada. Bagaimana kita memilih subuah pilihan untuk sukses?
Ditulis dalam Entrepreneurship | Tag:education, Entrepreneurship, lulus smu, sekolah
Makna persahabatan dengan Allah
adalah bersahabat dengan
semua karunia dan nikmat-Nya.
Bersahabat dengan nikmat-Nya adalah bersyukur.
Bersahabat dengan ujian-Nya adalah bersabar.
Bersahabat dengan perintah-Nya adalah menghormati
dan menunaikan.
Bersahabat dengan larangan-Nya adalah menjauhi.
Bersahabat dengan ketaatan adalah bersikap ikhlas.
Dan bersahabat dengan Al-Quran adalah merenungkan.
(ibn ‘Atha’illah 709H/1350M)
Ditulis dalam Penerang Hati | Tag:hikmah
Sekarang ada wadah baru bagi para blogger yang tertarik posting dengan singkat alias micro posting. Posting singkat seperti ini menarik karena seakan real time atau dibuat kronologis, sehingga mereka menamainya sebagai kronologger. Lebih lanjut dapat dibaca juga di blog Andri Setiawan, atau dapat dilihat juga pada wikinya.
Kroner sebutan bagi mereka, semakin berkembang dengan diperkenalkannya kronologger di ABN. Komunitas ini juga memiliki weblog. Kini kronologger semakin asyik dengan fasilitas posting secara mobile, sehingga real time benar-benar terjadi.
Siapa ingin mencobanya
Membuat blog sudah umum dilakukan mulai dari remaja yang baru mengenal internet, mahasiswa, karyawan, ibu rumah tangga hingga CEO perusahaan, bahkan presiden SBY pun memiliki blog. Banyak provider yang memberi kemudahan untuk membuat blog dan sebagian besar gratis seperti blogger dan wordpress.
Blog menjadi media yang ampuh untuk bersosial di dunia maya, tetapi akan menjadi sesuatu yang sia-sia bila tidak didayagunakan dengan baik. Beberapa tip dibawah ini mungkin dapat membantu pemula dalam mempersiapkan dan mendayagunakan blog.
a. Blog mu adalah “ciri khas” mu, maka buat layout semenarik mungkin dan lakukan refresh secara teratur untuk menghilangkan kebosanan
b. Posting tulisan yang ringan tetapi mungkin dapat menjadi informasi yang bermanfaat bagi pembaca, bisa dari pengalaman pribadi, pengamatan, atau informasi yang didapat dari blog lain yang kamu baca
c. Buatlah tulisan secara offline kapan saja dimana saja dan posting kapan saja saat diperlukan, ini bermanfaat karena kamu tidak selalu punya akses internet 24 jam sekaligus mengasah ide menulis
d. Perhatikan semua tanggapan-tanggapan dalam tulisanmu untuk dapat memperkaya ide-ide lainnya
e. Kunjungi blogmu secara rutin sebagaimana rumah yang selalu dikunjungi dan kunjungi blog temanmu juga
Selamat mencoba
Ketika bersepeda melintas di daerah Surabaya Barat, saya tertuju dengan rumah makan yang baru saya kenal, dan tampaknya memang baru, D’Cost namanya.
Belakangan, ketika ada kesempatan bersama Istri dan anak-anak, saya mencoba makan di sini dan kesan pertama yang saya dapatkan adalah tempatnya luas dengan interior yang modern dan yang terpenting tempatnya bersih dan nyaman. Sistem prosedur pelayanan standar, artinya sama dengan rumah makan lainnya, yaitu penerimaan tamu kemudian menanyakan berapa orang anggota yang akan makan, lalu mengantar ke tempat yang tersedia sesuai jumlah anggota, pramusaji memberikan daftar menu dan menanyakan apa saja yang akan dipesan, hinga makanan dikirim sesuai pesanan, setelah selesai tamu membayar di kasir atau meminta bantuan pramusaji.
Namun hal yang berbeda disini adalah bagaimana cara mereka mengatur pelayanan dengan sedemikian rupa hingga mampu menguasai jumlah tamu yang cukup banyak, dengan kondisi ruang yang memang super besar tidak kurang dari 600-800meter persegi saya kira, dan dapat dilayani dengan baik, cepat dan rapi. Ini menuntut system operasi yang baik. Saya amati, setidaknya terdapat empat tim yang ada di front line, yaitu tim penerima tamu, tim penerima order, tim pramusaji, dan tim kebersihan.
Tim penerima tamu dilengkapi dengan alat komunikasi radio yang bertujuan untuk koodinasi diantara mereka dan memberikan informasi yang tepat dan akurat meja-meja mana saja yang kosong dan tersedia untuk berapa orang tamu. Mereka hanya bertugas menerima dan menempatkan tamu sesuai dengan kapasitas meja yang tersedia, termasuk juga mengatur tempat yang telah dipesan sebelumnya.
Tim penerima order bertugas hanya menerima order dan menjelaskan semua menu yang tersedia kepada tamu. Tim ini dilengkapi dengan teknologi multimedia berupa PDA yang terhubung secara online dengan bagian administrasi pembayaran dan juga bagian produksi yang para tukang masak di dapur. Sistem ini menciptakan efisiensi, akurasi, dan proses yang cepat. Sekali input untuk semua bagian yang ada di dalam rumah makan.
Tim pramusaji bertugas hanya menyajikan makanan yang dipesan ke meja tamu dan mencentang list makanan yang telah di print sebelumnya yang ditempel dimeja untuk bagian makanan yang telah tersampaikan ke tamu, dimana data berasal dari input tim penerima order.
Tim kebersihan bertugas hanya membersihkan meja dengan mengambil peralatan makan yang sudah tidak digunakan oleh tamu untuk dibersihkan dan kemudian dapat digunakan kembali oleh tamu berikutnya.
Masing-masing tim bekerja dalam prosedur yang tetap tetapi saling berkaitan satu dengan yang lainnya sehingga mata rantai pelayanan dalam rumah makan tersebut dapat terjaga dengan baik dan memuaskan para tamu. Sayang saya belum dapat mengamati tim yang ada di posisi back line yaitu tim pembuat makanan, tim kebersihan (untuk bagian dalam), dan tim-tim lainnya.
Harga dan mutu makanan yang ditawarkan memang luar biasa sesuai dengan moto yang mereka janjikan yaitu “mutu dan harga”. Seolah pengelola ingin membuktikan bahwa untuk mendapatkan mutu makanan yang baik dan memuaskan (mutu juga berarti pelayanan, suasana, kenyamanan, dsb) tidak selalu harus dibayar dengan harga yang mahal. Konsep yang mungkin sederhana tetapi pengelola mampu mewujudkannya dalam praktek bisnis yang nyata.
Pengelola telah menciptakan economic of scale dalam produksi barang dan jasa yaitu suatu kondisi ketika rata-rata biaya produksi per unit turun dan semakin banyak barang dan jasa dapat diproduksi. Artinya dengan semakin banyak barang dan jasa diproduksi maka semakin rendah rata-rata biaya produksinya.
Dalam padangan resource-based, sumber-sumber penting dan utama bagi proses produksi barang dan jasa harus dapat dikuasai dengan baik oleh pengelola sehingga dapat menciptakan kompetensi. Kompetensi yang unggul akan menciptakan keunggulan bersaingan atau competitive advantage.
Resources dapat berupa tangible dan intangible, dan capabilities. Tangible dapat berupa pemilihan lokasi yang tepat, penataan interior dan atmosfir rumah makan, kemudahan akses dan ketersedian fasilitas umum yang memadai, lahan parkir yang luas dan keamanan. Intangible dapat berupa system manajemen operasi, keramahan, kenyamanan, rasa makanan yang sesuai dengan selera, brand dan reputasi, kecakapan dan kehandalan tenaga kerja dan sebagainya. Capabilities dapat berupa kehandalan dalam inbound logistic, tersedianya supplier yang murah dan sesuai standard, penyimpanan atau storage, kemampuan mengelola makanan dengan baik dan sebagainya.
Dengan mengandalkan pada economic of scale pada masanya akan memberikan peluang bagi kompetitor untuk masuk dalam industri yang sama dengan meniru, karena economic of scale pada dasarnya masih dapat ditiru, kecuali pengelola menguasai resource yang tidak dimiliki oleh pihak lain, hanya satu-satunya, dan semuanya membutuhkannya. Tetapi hal ini sangatlah sulit pada era saat ini. Sehingga resource masih harus ditingkatkan untuk menciptakan competitive advantage yaitu menciptakan reputasi dan loyalty atas brand D’Cost. Suatu tantangan yang tidak mudah bagi pengelola untuk mewujudkannya dimasa mendatang.
Ditulis dalam Strategic