Apa yang terjadi pada tanggal 14 Februari setiap tahun, setidaknya yang saya amati di Indonesia adalah “komersialisasi kasih sayang.” Yang seharusnya menjadi hari yang spesial menjadi tidak spesial lagi. Makna spesial menjadi pudar seiring dengan masuknya komersialisasi didalamnya.
Salahkah ini? Tentu tidak, karena “pasar” akan menemukan jalannya sendiri ketika hukum permintaan dan penawaran berlaku didalamnya.
Namun demikian para “muda-mudi” yang sedang asyik dengan romansa, secara tidak sadar terjebak dalam “komersialisasi kasih-sayang” dan justru memaknai valentine day menjadi tidak spesial lagi.
Sesuatu yang spesial adalah sesuatu yang berbeda dari yang lainnya. Valentine day menjadi spesial ketika memaknainya berbeda dengan hari yang lainnya, tetapi mejadi tidak spesial lagi ketika semua orang terjebak dalam “komersialisasi kasih sayang” sehingga yang muncul dimana-mana adalah “pacaran massal” dan berbagai bentuk “aktifitas unik” secara massal yang semuanya terjebak dalam komersialisasi dan bukan lagi kasih sayang yang spesial. Bagaimana bisa menjadi spesial ketika semua orang melakukannya.
Lukisan Monalisa menjadi fenomenal dan spesial karena tidak ada duanya dan akan menjadi tidak spesial lagi bila yang kita miliki adalah duplikasinya dan bahkan yang lebih parah lagi hanya berupa foto copy. Secara tidak sadar hal inilah yang kurang-lebih terjadi pada hari Valentine Day.
